Bulir Air Mata itu pun Jatuh April 12, 2008
Posted by amazonic in kisah.Tags: Air mata, Amazonic.com, Bulir, dewasa, kimia 2000, PMB, Tangisan
trackback
Kapan tangis pertama itu pecah. Saya tidak lagi ingat. Namun dalam perjalanan si-Amo2onic.com ini, setidaknya menurut catatan kecil dan ingatan saya, pernah beberapa kali air mata itu jatuh di pipi kita. Angkatan ini pernah terisak dalam emosi, pemohonan, kekalahan dan sedih. Bahagia?? saya belum bisa mengingatnya.
Ada tangis tertahan saat kita semua emosi, karena salah seorang rekan kita diperlakukan tidak semestinya oleh senior. Dalam Pembinaan Mahasiswa Baru (PMB) 2000 silam, tangisan pertama kita pecah saat komting saat itu, Tedi Marta Kusuma, di “hantam” oleh pembina kita. Kita semua marah, beberapa lelaki angkatan ini mengejar membalas dan perempuannya menjerit. Namun pada akhirnya kita semua menangis.
Kita menangis bukan karena sedih (saya kira), tapi lebih karena emosi yang tertahan. Kita marah, tapi dilarang untuk melampiaskannya. Kita ingin membalas, tapi dikekang untuk tidak melawan. Kita ada dalam posisi tersimpuh dan mohon pengampunan. Ujungnya hanya tangis yang kita punya. Kita terlalu muda saat itu, tidak paham apa makan “hantaman” itu. Kita menangis dalam keluguan remaja beranjak dewasa.
Lalu ada tangis kepura-puraan (ini subjektif saya). Saat itu rapat angkatan. Beberapa kita menangis, membujuk beberapa rekan untuk ikut PMB. Karena ketidakhadiran meraka adalah petaka buat kita. Sang senior tidak mau tahu, yang penting kita harus hadir lengkap.
Saya bilang tangis kepura-puraan karena ada nilai pamrih di dalamnnya. Kita menangis dan mengajak demi keselamatan kita. Kita mengucurkan air mata, setelah beberapa senior memberi tips, “keluarkan air mata kalian. Ajak dia dengan air mata, pasti teman kalian itu akan tersentuh dan kemudian ikut PMB”, begitu kira-kira nasehat yang pernah saya dengar.
Saat itu—bahkan sampai saat ini saya masih kukuh—saya berfikir, itu adalah nasehat terkonyol yang pernah saya dengar. Ketidakhadiran kawan-kawan yang lain dalam PMB, tidak bisa dituntaskan dengan air mata. Mereka harusnya dibujuk dengan kesadaran. Akhirnya saya benar, mereka yang menolak hadir tidak mempan dengan air mata “buaya itu”.
Hanya itu? Tidak. Tangisan paling ikhlas adalah saat angkatan ini kalah dalam perlombaan folkssong tahun 2001 silam. Dari tiga peserta, kita berhasil menjadi juara tiga. Tangis kita pecah. Terutama si tim folksong. Semuanya tersedu, bulir-bulir air mata jatuh ke tanah dan kita berpelukan dalam sedih yang teramat. Itulah tangisan penuh arti saat itu. Itulah tangisan pertama kita dalam kekalahan.
Kita menangis, karena kita kecewa. Jika dibandingkan jurusan lain, kita telah berlatih giat, paling lama dan paling serius. Satu bulan lebih persiapan menghadapi folksong, tidak ada harganya malam itu. Kita menangis dalam kekalahan.
Tangis kebahagian?? Adakah jenis kesedihan satu ini menghampiri kita. Saya sudah tidak ingat lagi. Pernahkah, kita secara massal, terisak melihat teman kita berhasil. Apakah saya lupa atau memang kita tidak pernah mengucurkan air mata masal kebahagian. Apakah karena kebahagian itu kita telan sendiri, dan kita hanya berbagi kekalahan, emosi, ketakutan dan rasa tidak percaya diri. Saya benar-benar sudah lupa. (harfianto)











Komentar»
No comments yet — be the first.