jump to navigation

Rekomendasi Ramadhan September 6, 2009

Posted by amazonic in kisah.
17 comments

Selalu ada yang baru. Jargon milik Harian Jawa Pos itu, saya comot untuk menggambarkan angkatan 2000. Selalu ada ide unik, jika semua skuad angkatan pertama di milenium ke tiga itu berkumpul. Bukan sekadar unik, namun juga penuh kenangan.

Satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah momen-momen Ramadhan. Bukan buka bersama biasa, ritual tahunan ini kami isi dengan pemberian anugerah. Namanya, Ama2onic.com award. Tidak hanya satu kali, namun award yang setara dengan grammy award ini pernah digelar beberapa kali. Meski beberapa saat kemudian, mati suri.

Setiap penganugerahan, selalu hasilnya mengejutkan. Dari banyak kategori, mulai dari cowok ter-TP (tebar pesona), cowok kulkas, hingga biang gosip (bigos), di isi orang-orang baru setiap tahunnya. Saya ingat cowk ter-TP pernah dipegang Rizki Hendri, Adial dan setelah itu saya lupa. Untuk cowok kulkas (maksudnya cool), pernah dipegang Yuardi.

Khusus untuk Bigos, tidak ada yang bisa mengalahkan kedigdayaan Matlal Fajri Alif. Pria kalem ini menggondol hadiah itu tiga kali berturut-turut. Meski di tahun ketiga, dia harus bersaing ketat dengan Adial Khalis Sultanda.

Lima tahun menghabiskan waktu bersama, angkatan 2000 juga lima kali menggelar buka bareng. Pertama digelar di rumah Yuerlita, kemudian di kediaman Dina Afiani Rusdi, lalu di tempat nenek Lyanda (dua kali), lalu di tempat Famela Yasmin. Terakhir (tahun kelima), sebuah rumah makan di kawasan sekitar Masjid Taqwa Muhammadiyah (sori.. sengaja nggak dituliskan namanya, takut jadi iklan), terpilih sebagai lokasi.

Selain dilima tempat itu, anasir angkatan 2000 pernah menggelar buka bareng di KFC Ambacang (tahun 2006) dan di Kubang (2008). Dan di 2007, sepertinya iven rutin tahunan ini gagal digelar.

Tiap pertemuan buka bareng, selalu ada keputusan yang dihasilkan. Berikut saya review satu persatu.

1. Buka Puasa I (2000) di kediaman Yuerlita.

Ini buka pertama pendahuluan angkatan 2000. Masih malu-malu saat itu. Dari 72 anggotannya, yang datang tidak begitu banyak. Makan nasi bungkus sambil ‘manggarepok’ di lantai keramik rumah Iye, woow.. asyik banget. Banyak hal yang dibahas waktu itu. Namun yang paling utama adalah strategi menaklukkan sang senior.

Saya tidak bisa lagi mengingat masa sembilan tahun silam itu. Entah apa yang kita bicarakan saat itu. Tapi yang pastinya, sesuatu yang besar. Suatu rencana yang menentukan jalannya angkatan 2000, empat dan lima tahun kemudian.

Beberapa waktu setelah Ramadhan 2000 itu, kediaman Iye di Jalan Tunggang ini juga menjadi basecamp sementara. Konsep pertunjukan saat pembukaan pembinaan mahasiswa baru. Mulai dari operet yang bertema tentang Alidin si-jengkol (Yuardi) dan Peri (Anggreyni Bahar), dan sang putri yang saya lupa siapa orang yang terpilih saat itu.
 
2. Buka Puasa Ke II (2001) di kediaman Dina Afiani Rusdi.

Saat itu, Dina bukan lagi anak Kimia 2000. Dia adalah alumni Kimia 2000 termuda. Berbekal tekad ingin menjadi seorang dokter, Dina bersama Afdal dan M Nur Huda, menggikuti UMPTN untuk kedua kalinya. Dan Alhamdulillah, mereka lulus.

Jadilah angkatan ini melakukan buka bersama di rumah buk dokter. Saya juga banyak lupa dengan momen ini. Yang saya ingat, untuk pertama kalinya Matlal terpilih sebagai Bigos Kimia 2000. Tidak salah memang award itu diberikan kepadanya. Jeri, memang sumber informasi di angkatan kami.

Saya yang saat itu buta dengan kawasan Siteba, agak meraba-raba untuk sampai ke kediaman Pak Rusdi. Dengan Arif Ferdian, Rizki Hendri, saya merayapi satu demi satu jalur itu. Untungnya, sang panitia, Lyanda Ikhnas, menunggu di gerbang masuk kediaman Dina.

(Kalau saat ini saya disuruh lagi mencari rumah Dina, saya masih angkat tangan). Siteba itu terlalu ruwet. Banyak belokan sana-sini. Belum lagi nama-nama jalan yang nyaris seragam. Di kawasan itu, jalan diberi nama provinsi. Mana Jalan Semarang, Jalan Makasar, mana Jalan Jakarta, saya masih tidak tahu.

Apa hasil acara itu. Sekali lagi maaf, saya lupa.

3. Buka Puasa ke III (2002) di rumah nenek Lyanda di Alang Laweh.

Ini mungkin bisa disebut sebagai buka bersama terpenting. Karena saat itu, kita tidak lagi junior. Status senior tukang Ospek mulai disematkan di pundak kita. Dan kediaman nenek Lyanda menjadi saksi, saat semuanya itu mulai dibahas.

Seperti tahun sebelumnnya. Di sini Matlal kembali merebut award sebagai biang gosip. Dua tahun gelar itu direbutnnya. Tidak terkalahkan. Bahkan putra tunggal Dr Admin Alif ini makin mengcengkramkan kukunya.

Yang saya ingat, dalam momen ini Rizki Hendri juga menjadi pria ter-TP. Lalu ada permainan truth-truth-an (apa namanya), siapa yang dapat kaset (atau apalah itu) disuruh untuk jujur bercerita. Untung saja, saya tidak dapat kesempatan saat itu. Sehingga banyak rahasia yang belum terbongkar..heheh.

Lalu dalam ajang ini, juga dibuat rekaman kegiatan buka bersama ini. Lengkap dengan testimoninya. Kemudian, juga ada pesta durian. Bukan kebetulan, kawasan Alang Laweh pada 2002 itu adalah pasar durian. Saya ingat, Deki, Arif dan beberapa teman laki-laki lainnya ditugaskan sebagai pembeli buah berduri itu.

Hasil buka bareng itu? Saya lupa spesifiknya seperti apa. Namun yang pasti ada sejumlah penekanan-penekanan. Terutama perkara kekompakan dan penyambutan angkatan 2002.

4. Buka Puasa ke IV (2003) juga di rumah nenek Lyanda

Dari sekian banyak buka bersama, momen ini yang tidak saya ingat persis. Bahkan saya juga lupa, apakah saya hadir dalam acara ini.

5. Buka Puasa ke V (2004) di kediaman Famella Yasmin.

Ini yang paling penting. Bertempat di rumah Famella di kawasan Mato Aia, angkatan ini buka bareng. Ada kata-kata yang sering kali diulang-ulangi Afte dalam rapatnya. Kata itu adalah sejumput. Antah apo artinyo ko…

Dalam sesi rapat, untuk pertama kalinnya award amazonic tidak digelar. Suasananya mulai berbeda. Saat itu beberapa orang teman sudah bersiap-siap tamat. Tiga poin penting yang dihasilkan saat itu, adalah rencana homestay angkatan, remeh temeh penting lainnya dan agenda reuni 2010 di Parkir Bumiminang.

Dua agenda pertama sudah terlaksana sukses. Homestay digelar di Maninjau pada Oktober 2004, remeh temeh mulai dari acar wisudawan dan lainnya, juga sukses terlaksana. Satu lagi rekomendasi masih menggantung. Rencananya, reuni ini akan digelar pada 10 Oktober 2010. Namun pilihannya adalah saat lebaran 2010 saja.

6. Buka Puasa ke IV (2005) di salah satu rumah makan.

Hujan sangat deras waktu itu. Beberapa teman yang sudah menyatakan kesediaan hadir, batal datang. Hanya tinggal beberapa orang saja. Saat itu disepakati kumpul di Masjid Taqwa. Semua laki-laki yang hadir sepakat memakai topi ala Ustadz Arifin Ilham. Bedanya, Arifin Ilham senang mengenakan warna putih, kami memilih abu-abu.

Tidak ada pembicaraan serius. Hanya makan, ketawa dan foto bersama-sama. Lalu pulang.

7. Buka Puasa Ke VII (2006) di KFC Ambacang

Ini tidak bisa dikatakan sebagai buka bersama angkatan 2000. Yang hadir hanya beberapa orang saja. Buka ini diadakan untuk melepas kepergian Santi ke Jepang. Saat itu, Santi pulang ke Padang dan beberapa hari setelahnya, dia balik lagi. Tidak ada pembicaraan serius tentang angkatan.

8. Buka Puasa ke VIII (2007)

Saya lupa, adakah kita buka bareng pada tahun ini.

9. Buka Puasa ke IX (2008) di Kubang

Kita sudah dewasa saat ini. Beberapa orang bahkan sudah menikah dan sisanya akan menuju ke sana. Masjid Taqwa menjadi tempat favorit untuk ngumpul bareng. Nyatanya, masjid ini bukan milik kita aja. Saat itu Kimia angkatan 2003 dan Farmasi 2000 juga menjadikannya tempat ngumpul.

Untuk buka puasa ini, sudah saya tuliskan. Silahkan lihat disini.

Ya.. demikian rangkaian buka bersama angkatan 2000 ini. Sekarang di puasa 2009 ini, adakah rencana itu kita lakukan lagi. Saya tunggu respon kawan2 smuanya.(nto)

Note : Sedianya tulisan ini saya buat satu hari menjelang Ramadhan, namun gagal terselesaikan. Sehingga juga telat diposting.

(Bukan) Antar Undangan Agustus 27, 2009

Posted by amazonic in asing.
6 comments

Masih tinggi ramping. Jenggot tipis tetap menghiasi dagu laki-laki ini. Hampir satu tahun tinggal di negeri orang, tidak mengubah wajah Melayunya. Walau saban hari, selama setahun ini, dia bergaul dengan warga Latino.

Hidup dalam budaya mereka, dipastikan Ihsan tidak akan mengubah indentitasnya. “Ambo tetap urang Melayu,” kata pria blasteran Bukiktinggi dan Batusangkar ini, kemarin.

Sebagai penunjuk waktu, kemarin merujuk pada hari sebelum hari ini. Saat itu, Kamis 27 Agustus 2009, Ihsan Iswaldi, begitu nama yang diberikan orang tuanya, datang. Tidak dengan tiba-tiba. Sehari sebelumnya Ihsan sudah mengasih kabar lewat SMS, kalau dia akan berkunjung.

Masih sama seperti 9 tahun lalu, Ihsan datang dengan gaya ‘tak gendong’. Lagu Mbah Surip ini cocok disematkan dengan gayanya saat itu. Dia hadir menggendong tas besar di punggungnya. Masih bergaya mahasiswa semester dua.

Belum sempat saya bertanya, Ihsan sudah mengklarifikasi. Usai saling berjabat tangan, dia menegaskan, datang bukan untuk mengantar undangan. Bukan tanpa alasan ungkapan itu, karena memang dari beberapa orang angkatan 2000 yang ketemu saya, selalu bermaksud sama, yaitu mengantar undangan.

Tidak sembarangan undangan tentu saja. Undangan yang datang adalah kabar pernikahan. “Ambo indak anta undangan do nto,” tegas kandidat doktor dari Universitas Granada Spanyol ini. Dia sudah berada di Indonesia sejak 8 Agustus hingga 2 September mendatang.

Tidak mengantar udangan, bukan berarti Ihsan tidak membawa misteri seputar ‘undangan’. Malu-malu dan kadang polos, dia menyebutkan masa summer holiday-nya, dimanfaatkan untuk melakukan penjajakan dengan sesorang.

Siapa dia? Ihsan masih menyimpan identitasnya. Tidak mau didesak, Ihsan malah menanyakan saya kapan menyusul Afte, Arif dan para pria anggkatan 2000 lainnya yang sudah melepas kesendiriannnya. Seperti Ihsan yang masih menunggu tahun depan, saya juga seperti itu.(nto)

Albert Juli 30, 2009

Posted by amazonic in ingatan.
9 comments

Namanya sangat singkat, hanya enam suku kata. Namun kenangan tentang dia, jauh lebih panjang dari pada nama laki-laki ini. Dialah Albert yang pada Senin 20 Juli lalu menghadap Sang Pencipta.

Semasa kuliah, meski berbeda angkatan, Albert dikenal cukup dekat dengan beberapa anak-anak kimia 2000. Banyak sebabnya, selain beberapa dari kami sering kuliah bareng, di akhir-akhir masa studi masing-masing Albert juga terlibat penelitian bareng bersama angkatan ini.

Saya pribadi memang bukan konco palangkinnya. Namun sedikit banyak saya tahu tentang dia. Tidak ada yang meragukan kecerdasan laki-laki ini. Gayanya memang biasa-biasa saja. Ke kampus tanpa tas, hanya sebuah bundel binder yang ditentengnya ke sana kemari.

Dia juga tidak terlalu tekun, dalam artian basitungkin belajar saat ujian. Dalam amatan saya, Albert malahan lebih sering main bridge di Kafe Ayah, ketimbang mengutak-atik rumus-rumus Kimia.

Namun, jangan ditanya soal hasil ujian. Mulai dari Kalkulus, hingga Kimia Fisika dilahapnya tanpa bekas. Bahkan saat kami kuliah bareng mengambil mata kuliah pilihan, Albert pernah membuat seorang dosen menangis usai berdebat dengannya.

Usai memperoleh gelar S1 dari Kimia Unand, Albert melanjutkan studi S2 di pascasarjana Unand di jurusan yang sama. Kemudian saya dengar dia menjadi guru di SMA Don Bosco Padang. Terakhir, saya ketemu Albert dalam sebuah kesempatan di Padang. Dia menjadi Promotion Supervisor di maindealer Honda Sumbar, Menara Agung.

Albert menghadap sang pencipta akibat geger otak yang disebabkan kecelakaan pada hari sebelumnya. Seperti yang lain, saya tidak menduga laki-laki cerdas itu akan pergi secepat ini. Kabar kepergiannya di milist alumni Kimia yang saya baca Selasa 21 Juli lalu begitu mengejutkan. Selamat Jalan Albert.. Semoga amal ibadahmu diterima Tuhan Yang Maha Esa.(nto)

Ikrar Dua PNS Juli 22, 2009

Posted by amazonic in kisah.
19 comments

Apa jadinya jika dua PNS mengucapkan ikrar suci. Pastinya mereka tidak akan menjadi pemain bola -karena dibutuhkan minimal 11 pemain untuk membentuk tim-. Namun bisa dipastikan, keduanya akan menjadi pasangan hidup yang menyepakati membentuk keluarga.

Tidak lama lagi, dua pamong di Kota Solok ini akan mengucapkan janji suci mereka. Mereka adalah Menikah Arif Ferdian SSi (Staf Kantor Lingkungan Hidup Kota Solok) dan Dona Monica AMd (Staf Dinas KPST Kota Solok).

Keduanya bakal melepaskan masa lajang masing-masing dan bersanding di pelaminan dalam resepsi yang digelar Rabu Rabu 29 Juli di di Sawah Sudut No 248 Selayo Kabupaten Solok.

Arif Ferdian merupakan penyerang andalan Kimia 2000. Namun sayang posisinya sebagai striker itu tidak cukup membantu. Buktinya dibanding Afte, Rafki, Tedi atau Adial, Arif termasuk generasi midle yang melepas kesendirian.

Terhadap hal itu Arif punya jawaban sendiri. Katanya, seperti bermain bola, striker dituntut punya insting mencetak gol. Bisa saja dia mendapatkan umpan-umpan bagus dari pemain sayap atau tengah, namun kalau tidak yakin, sang striker akan menunggu waktu yang tepat melesakkan si kulit bundar ke gawang.

Prinsipnya, lebih bagus menunggu waktu, dari pada peluang emas terbuang percuma. Saksikan saja pertandingan bola, kadang kita suka gregetan melihat polah si striker. Dapat bola bagus, tapi gagal mengeksekusi.

“Makonyo, awak manunggu waktu yang tapek untuk menendangnya,” kata Arif beralibi.

Dan waktu yang tepat itu adalah bulan Juli ini. Dengan persiapan matang, Arif mempersunting Dona anak Rang Padang sebagai pendamping hidupnya. Selamat untuk Arif. Semoga di saat peristiwa “sakral”-nya Arif tidak lupa menyiapkan sapu tangan :-).

Tiap cerita memang punya sisi yang unik. Perjalan hidup tidak bisa ditebak. Dia datang saat tidak kita duga, dan pergi jika kita inginkan. Demikian juga dengan jodoh. Siapa yang tahu jika pendamping hidup saya, kawan-kawan semua yang masih mencari, adalah orang-orang yang dekat.

Mereka bisa jadi kita temukan di tempat kerja, sekitar rumah, anak ibu kost, kawan satu SD atau yang lainnya. Tidak menutup kemungkinan, dia adalah pengunjung blog ini. (nto)

Disunting Laki-laki Masa Lalu Juli 5, 2009

Posted by amazonic in kisah.
36 comments

Rambo

Jangan pernah abaikan pertemuan masa lalu. Bisa jadi itu akan menjadi awal dari perjalanan selanjutnya. Pelajaran satu ini, sepertinya dipahami benar oleh perempuan ini. Hitungan hari sejak saat ini, dia akan dipersunting laki-laki masa lalunya.

Padang seperti biasanya. Tidak ada yang berubah dengan kota bingkuang ini. Semuanya masih sama, seperti sembilan tahun lalu, saat saya menginjakkan kaki pertama kali di kota ini. Namun, tetap saja ada yang berbeda setiap hari. Seperti pada Jumat 3 Juni 2009 lalu.

Sebuah janji dibuat. Seperti teman angkatan 2000 lainnya, siang itu, usai Sholat Jumat, perempuan itu, Rahma Liana Sari mampir di kantor saya Jalan Proklamasi 38 AB Padang. Sebelum saling jumpa, Rambo -begitu dia kami panggil- sedikit memendam rahasia.

Malam sebelumnya, di sela waktu deadline, Rambo menyampaikan dia sedang berada di kota ini. Dia datang dari pulau seberang, beberapa hari yang lalu. Waktu saya tanya, ada kabar apa, Rambo menjawab singkat, “Taragak jo Anto se nyo. Hahahah,” dia tertawa renyah seperti biasanya.

Saya sepakati, dia bisa jumpai saya esok hari, Jumat 3 Juli sebelum jam 16.00 WIB -waktu masa deadline saya dimulai-. Hingga siang, setelah merevisi jadwal pertemuan, Rambo belum juga bercerita apa-apa. Awalnya, saya berfikir, dia mau ditemani ke kampus, seperti permintaan sebulan lalu. Saat itu, dia kembali ke Padang untuk melegalisir ijazah di Jurusan Kimia Unand.

Ternyata bukan itu maksudnya. Ada kabar yang lebih penting daripada soal legalisir ijazah. Dengan senyum mengambang, Rambo yang saat itu didampingi sepupunya Rafi, menyodorkan sebuah kertas hijau tua bersampul plastik. Di bagian depan tertulis member of amazonic.com di tempat. Sedang di bagian dalamnya berisi kabar ini:

Menikah Joko Widodo ST dengan Rahma Liana Sari SSi
Akad Nikah, Sabtu 11 Juli 2009 di Masjid Jam’ Tarok Jalan Prof Hamka-Bukittinggi. Resepsi, Satu 11 Juli 2009 di Jalan Prof Hamka No 18 A Bukittinggi.

***
Mengenakan jas almamater warna hijau, Rambo berbaur dengan puluhan buruh PT Tri Polyta Indonesia Tbk di Jl. Raya Anyer Km 123 Ciwandan Cilegon, Serang, Banten. Dia melangkah melewati beberapa bagian pabrik pembuatan resin polypropylene itu.

Di perusahaan ini awal kisah mereka. Seorang laki-laki yang kemudian mengenalkan diri sebagai Joko Widodo ST menyodorkan tangannya. Tidak ada desir, saat Rambo menyambut uluran perkenalan itu. Semuanya normal-normal saja. Mereka saling bertukar cerita dan nomor telepon.

Saat itu tahun 2003. Rambo masih menempuh studi di Jurusan Kimia Unand. Dia hadir di Tri Polyta Indonesia sebagai mahasiswa magang. Berbekal surat pengantar dari kampus, Rambo dan beberapa teman yang lainnya, selama satu bulan mengikuti Kuliah Praktek Sain dan Teknologi (KPST) di perusahaan itu.

Sudah adakah rasa saat itu? Saya tidak tahu. Yang pasti, enam tahun kemudian, keduanya menasbihkan diri sebagai pasangan hidup. Mereka akan menikah 11 Juli nanti. Enam tahun, bukan waktu yang singkat. Banyak yang terjadi dalam rentang itu. Cukup lama prosesnya. Tapi soal jodoh siapa yang tahu. Dengan telepon mereka saling bertukar kabar.

Rambo di Padang dan alumni Jayabaya 2001 itu di tanah Jawa. Namun cinta datang jika kita memang menginginkannya. Dan desir itu tidak sepihak. Mereka bersiap membentuk keluarga bahagia selamanya. Selama untuk Rambo dan Joko. (nto)

NB: *** Cerita di bagian ini hanya ilustasi. Saya berspekulasi, jangan-jangan Rambo melegalisir ijazahnya awal Juni lalu, untuk memenuhi persyaratan prosesi lamaran.